Des
08

Grebek Suro dan Pewarisan budaya

Filed Under (Sudut Pandang, Tak Berkategori) by fauzy on 08-12-2008 and tagged
No Gravatar

Kemasyhuran sebuah daerah selalu paling gampang dikenali dengan kebudayaannya, baik itu kesenian, makanan khas, dan hasil karya putra daerahnya.. Ketika orang menyebut debus, maka pikiran yang terlintas adalah kesenian dari Banten, ketika berbicara ukiran, maka yang terpikir adalah orang Jepara, ingat gudeg tentu juga ingat Yogyakarta.

Begitupun yang terlintas dalam setiap benak dari bangsa ini tentang Ponorogo adalah Reyog Ponorogo. Reyog tidak hanya sebuah seni biasa, tetapi juga budaya, yaitu budi yang merupakan hasil pikir dan daya yang mewujudkan kreatifitas karya. Tidak cukup itu, reyog juga bagian sejarah dan peradaban serta filosofi tentang kebenaran yang akan selalu menang atas segala kebatilan. Salah satu unsur dalam kebudayaan adalah pewarisan pada generasi penerusnya. Reyog dalam bingkai budaya harus bertahan pada wilayah nilai estetika, pesan moral, dan pendidikan sejarah. Reyog sebagai suatu sistem yang utuh dari sebuah kebudayaan ini yang harus diwariskan, dipertahankan, diuri-uri, dan ada pembelajaran yang berkelanjutan. Kalau tidak reyog akan mengalami nasib yang sama dengan ludruk, ketoprak, wayang orang dan lainya, mengingat sudah semakin mengglobalnya bentuk budaya yang ada dalam kehidupan bangsa ini.

( Reyog Ponorogo: seni, pesan moral dan sejarah. Sumber foto: youtube )

Penampilan kebudayaan Reyog Ponorogo ini memang banyak unsur yang menyerupainya, misalnya Pungmul atau Nongak di Korea, yang merupakan jenis kesenian tradisional Korea yang memasukkan unsur tarian dan nyanyian dengan diiringi musik gendang dengan bentuk jam pasir, drum besar, gong serta alat musik tiup. Atau Sandai-nori dan Talchum yang merupakan tari topeng dengan penampilan mirip Pujang ganongnya Reyog Ponorogo. Juga kesenian Barong Bali atau Barongsai yang menampilkan sebuah barong atau singa sebagai lambangnya. Namun Reyog Ponorogo tetap menunjukkan ciri khas dan kelebihannya yaitu mempunyai filosofi kekuatan, keindahan, keberanian dan kepatuhan serta alur cerita yang tuntas sebagai lakon tanpa perlu diceritakan atau cerita yang tidak perlu dituturkan lagi.

Tari topeng ” Talchum”  seperti Pujang Ganong ( sumber : Yahoo Korea )

Ponorogo yang saya kenal memang tidak hanya reyognya saja, namun juga makanan atau minuman khas. Kalau di Tuban atau di Bali kita mengenal tuaknya, tetapi di Ponorogo kita akan kenal dawetnya dengan trade marknya ’Dawet Jabung’. Tidak hanya itu, tentang makananpun orang di luar Ponorogo akan mengingat sate ayam, srabi, jadah bakar atau sekedar lentho Ponorogo yang khas ada ikan terinya. Betapa nikmatnya saat udara pagi masih segar, di warung kecil di pinggir-pinggir jalanan kota, sambil duduk menikmati ’sego kucing lawuh lentho’ atau sekedar ngopi dengan jadah bakar, saya katakan ini ” the real Ponorogo ” yang murah, meriah dan indah.

( lentho teri, favorit saya ketika di Ponorogo. Foto : jawarie.multiply.com )

Budaya masyarakat Ponorogo menurut saya tercermin dari penampilan warognya. Warog Ponorogo itu menampilkan falsafah ” digdaya tanpa aji, menang tanpa ngasorake” ( sakti tanpa pusaka, menang tanpa merendahkan ). Yang selalu ditonjolkan adalah senjata tali putih ( sabuk tali lawe). Tali yang besar dan kuat yang berwarna putih itu menggambarkan bahwa senjata yang paling ampuh adalah ikatan persatuan yang kokoh dan dilandasi niat suci. Cerminan ini dibuktikan oleh masyarakat Ponorogo yang etos kerjanya selalu mengedapankan kebersamaan. Realitas bahwa masyarakat Ponorogo bisa menyatu dan berbaur dengan masyarakat Lampung, Jambi, Riau, Kalimantan, bahkan di Malaysia menunjukkan bahwa kultur masyarakat Ponorogo cepat berbaur namun tetap membawa ’ rasa’ budaya Ponorogo.

Grebeg suro, sebagai kegiatan rutin tahunan selain menjadi ajang untuk melestarikan budaya Reyog Ponorogo, mengenalkan wisata Ponorogo, juga yang tidak kalah pentingnya adalah untuk ’ mempertemukan’ kembali setiap unsur yang ada di dalam masyarakat.  Raden Joko Piturun yang kemudian menjadi Adipati Batoro katong yang diwisuda tanggal 1 Dzulhijjah 901 H atau bertepatan 11 Agustus 1.496 M ( www.ponorogo-online.890.com ) ini tentu bercita-cita membangun masyarakatnya secara utuh di setiap lapisan masyarakat yang ada yang ada baik secara ekonomi, budaya, spiritual atapun politik yang menuju masyarakat adil dan makmur.

Grebek Suro juga harus tetap dalam kerangka tema menggali dan menemukan budaya Ponorogo yang mulai tergeser, untuk selanjutnya perayaan grebek suro benar-benar menumbuhkan ’ nasionalisme’ pada setiap pribadi Ponorogo. Dan kita merasa bersyukur sekali hingga saat ini masyarakat Ponorogo masih mencintai kebudayaan serta keunggulan lainnya dari daerahnya. Inilah yang terus harus diwariskan, dilestarikan secara berkelanjutan. Harapan saya, kalau orang kenal Korea karena Tae kwon do, orang mengenal Brasil karena sepak bola, maka orang mengenal Indonesia karena Reyog Ponorogonya.



11 Comments Already, Leave Yours Too

SanG BaYAnGNo Gravatar on 9 Desember, 2008 at 07:39 #
    

Tentang abangan,priyayi dan santri dalam karya mas di atas,tolong di cantumkan sumbernya,untuk menjaga hal2 yang tdk di inginkan. Sebagai penulis kita punya kebebasan untuk menulis dan mengambil sumber dari manapun tapi bukan berarti asal-asalan dan bebas menyadur tanpa mencantumkan sumber,kalau mas ikut lomba blogger ponorogo,bukankah itu termasuk salah satu persyaratanya.
Key…ma’af ya.

:terima kasih atas kunjungan dan sarannya. dan selanjutnya saya menunggu saran berikutnya. salam kenal.


JAUHDIMATANo Gravatar on 17 Desember, 2008 at 07:12 #
    

kalo saya yang berkesan dengan ponorogo adalah warung ayu-nya.
disetiap sudut baik desa maupun kota semua tersedia. hehehe…,
kapan ke ponorogo mas?

: bener kok kangmas…, ‘waryu’ne Ponorogo pancen nyengsemne ati. tapi ojo kondo2 yo..cukup awake dewe wae sing ngerti…


petrukNo Gravatar on 17 Desember, 2008 at 08:05 #
    

wah.. kalau aku seneng ngangkringan di dalan anyar, deleng bakule sing seger-seger(du).


Lomba Nge-BLOG 2008 | Kotareyog.com on 18 Desember, 2008 at 01:27 #

arifudinNo Gravatar on 23 Desember, 2008 at 13:30 #
    

mari kita lestarikan budaya bangsa :)

: makasih dan sukses selalu.


Yahya adisNo Gravatar on 23 Desember, 2008 at 21:17 #
    

Lestarikan budaya bangsa terus ya.. Sebelum bangsa lain yg melestarikannya

: trims dan setuju sekali


meylyaNo Gravatar on 25 Desember, 2008 at 23:47 #
    

top mas artikelnya mugo² menang ya


Tokoh sepakbolaNo Gravatar on 4 Maret, 2009 at 00:11 #
    

I too will be looking forward to the post.


pardiNo Gravatar on 18 Maret, 2009 at 09:33 #
    

semoga menang mas….

salam kenal…..

pardi´s last blog post..Aneka Kesenian di Gelar Budaya Indonesia


AndrewBoldmanNo Gravatar on 4 Juni, 2009 at 19:50 #
    

da best. Keep it going! Thank you


    

Hey, nice post, really well written. You should post more about this.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments:
CommentLuv Enabled

Mas Zee (mbabatan)com is using WP-Gravatar